Sajak Jalanan di Obchodná Street, Slovakia

 

_DSC0492_editedAt the Cafe Central:

Here people walk by as grey as the streets,well shrouded in jackets of sadness,
hooded in scarves of monotony.
They walk under umbrellas of sorrow.

I wait for a message, for a smile,
at the Cafe Central in Obchodná Street

Kau suka puisi, Kawan? Berterima kasihlah pada Vašek Valesky yang menulis puisi cinta pertama kali, epic anonim tentang Silàdi dan Hadmàzi.

*dalam satu perjalanan di Bratislava, Slovakia
20 Agustus 2013

Advertisements

Berkeliling Dunia dengan Kapal Viking di Roskilde, Denmark

IMG_5827
Museum Viking di Roskilde, Denmark

Aku bangun pagi-pagi sekali, mandi lalu merapikan barang-barang yang masih berserakan di atas kasur. Hari ini adalah hari terakhirku di Denmark tetapi aku punya waktu 12 jam yang tersisa sebelum kembali ke Jerman. Aku berpamitan dengan Eric, seorang traveler asal Taiwan yang menghadiahiku selembar kartu pos Warsawa yang ia lukis sendiri, dan beberapa orang kawan yang rupanya akan melanjutkan perjalanan ke Norwegia dan Islandia hari ini. Aku pun menyelesaikan urusan administrasi di lobby hostel dan berjalan kembali menyusuri jalan-jalan kecil Copenhagen di pagi hari.

Setiba di Central Station, aku membeli 1-Day-Ticket seharga DKK 130. Tiket ini berlaku untuk semua jenis transportasi di Copenhagen, Roskilde, Elsinore, hingga North Zealand. Tujuanku pun ke kota Roskilde, sebuah kota di Pulau Zealand, 30 menit berkereta dari Copenhagen. Satu kota yang sengaja aku sisakan di hari terakhir perjalananku.

IMG_5897
The Altarpiece di dalam Roskilde Cathedral

Roskilde adalah salah satu kota kuno di Eropa yang mulai ramai sejak zaman Viking. Jauh sebelum tahun 1000, kapal Viking ditemukan tenggelam di Roskilde Fjord, diperkirakan untuk memblokade akses ke kota. Roskilde juga menjadi tempat pemakaman favorit keluarga kerajaan sejak Ratu Margereth I dimakamkan di sana pada tahun 1412, didalam sebuah gereja Cathedral.

Roskilde Cathedral adalah salah satu gereja di Skandinavia yang dibangun dengan batu bata pada abad ke 12. Gereja ini pula memiliki pengaruh besar yang luar biasa pada gaya arsitektur bangunan di Eropa.  Kini, Roskilde Cathedral menjadi salah satu situs sejarah yang dilindungi oleh UNESCO World Heritage. Tak banyak waktu yang aku habiskan di katedral yang berisi kuburan-kuburan ini. Aku lebih tertarik dengan Vikingeskibsmuseet, museum Viking.

Negeri Skandinavia dikenal karena bangsa Vikingnya. Aku melengkapkan penjelajahan ini dengan mengunjungi museum pembuatan kapal Viking. Langkahku pun kembali mencari arah menuju Viking Museum, nampak dari atas peta terletak di garis Pantai Sagafjord. Membutuhkan waktu sekitar 10 menit berjalan kaki dari Roskilde Cathedral melewati Byparken.

Salah satu keuntungan berkeliling Eropa dengan menyandang status mahasiswa adalah selalu ada potongan harga setiap masuk museum. Entrance fee Vikings Ship Museum pun bervariasi mengikuti musim. Aku membeli tiket masuk tepat di gerbang museum dengan menunjukkan Student ID, seharga DKK 100 dari harga normal DKK 115.

Sepotong Pagi di Ujung Utara Afrika, Fes, Maroko

Salju
Jika kau menyukai salju, kau juga harus belajar memeluk beku!

Mülheim an der Ruhr. Di penghujung tahun 2014, tipis bulir-bulir salju dimainkan angin, memutihkan jalan dan atap rumah sejak semalam. Pagi ini suhu berkisar -7 celcius. Hampir tiga tahun aku tinggal di benua ini. Perkara salju masih saja terasa unik. Terlebih kotaku jarang mendapat jatah salju saat winter, tahun lalu bahkan tak ada salju sebutir pun.

Aku kedatangan tamu istimewa di penghujung tahun 2014 ini. Salah satu sahabat dari Makassar yang sekarang sedang belajar di Norwegia menghabiskan liburan akhir tahun bersamaku. Satu riwayat masa muda yang akan kembali kami ceritakan saat tua nanti. Pun, akan menjadi pengalaman yang akan kami bagi dengan sahabat-sahabat saat pulang nanti.

Matahari seharusnya sudah terbit, kelabu langit mulai nampak, salju masih turun satu-satu. Sedikit was-was, sore ini aku terbang menuju benua seberang, buah dari keseringan mengunjungi laman website pesawat lowcost Eropa. Sementara di negeriku saat ini sedang sibuk dengan urusan penghapusan tiket penerbangan murah, akibat dari kecelekaan pesawat Air Asia. Tugas rumah Indonesia masih sangat menumpuk.

Kami tiba di Airport Weeze Düsseldorf satu jam sebelum penerbangan, setelah sedikit panik karena menyangka salah menaiki kereta. Aku mengira bandara kecil ini terletak tak jauh dari International Airport Düsseldorf. Ternyata bandara ini justru berada di wilayah Kleve, aksesnya lebih mudah dari kota Venlo dan Nijmegen di Belanda. Bandara ini dulunya adalah tempat pelatihan militer angkatan udara Jerman RAF Laarbruch pada masa Perang Dunia II, dimana skuadron-skuadron kebanggaan Jerman pertama kali terbang dari bandara ini. Sepanjang perjalanan, sisa-sisa base pelatihan terlihat beralih fungsi menjadi rumah tinggal dan perkantoran kecil.

ryan air
Ryan Air membelah langit NRW di musim salju

Tak ada antrian panjang di gerbang imigrasi setelah melewati security check-in. Tak perlu menunggu lama untuk duduk di dalam pesawat. Kami pun meninggalkan NRW sesuai dengan jadwal. Pesawat ini terbang saat berita duka tentang hilangnya pesawat Air Asia QZ8501 rute Surabaya – Singapore masih menjadi topik utama di dunia penerbangan. Belum juga ada kabar tentang keberadaan korban.  Seuntai doa terkirim untuk para korban dan keluarga sesaat setelah roda ban pesawat menghentak tanah.

Teringat kata seorang bijaksana, Buya Hamka, “lebih banyak orang menghadapi kematian di atas tempat tidur daripada orang yang mati di atas pesawat. Tetapi kenapa lebih banyak orang yang takut mati ketika menaiki pesawat daripada orang yang takut menaiki tempat tidur?”. Pun di dalam sebuah Kitab Maha Benar tertulis bahwa “… dan tidak ada seorang pun yg mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.”

Dari kaca jendela, hamparan putih salju menutupi lahan dan perumahan, lalu perlahan tak nampak lagi, tergantikan gumpalan awan yang sama putihnya. Juga doa-doa yang aku bisikkan dalam lirih, dalam teriak, semoga lekas menembus dinding langit kelabu di akhir tahun 2014 ini.

Fez – Boulemane

Aku menyukai bagaimana Maroko menyambut kedatanganku sore itu. Bapak Pilot memarkir badan pesawat tak jauh dari pintu masuk bandara. Senja pun turut menyeruakkan kemuningnya di lapangan terbang yang kosong melompong, hanya pesawat kami saja yang mendarat saat itu. Jangan tanyakan soal angin, jaket tebal sudah aku lipat sebelum menuruni tangga pesawat, aku tak ingin merugi melewatkan hangat matahari sore yang dua bulan terakhir ini begitu langka di Mülheim. Kehangatan ini seolah tahu, kakiku baru saja berpijak pertama kali di Benua Afrika.

Bagi orang Indonesia, mengunjungi Maroko tak perlu mengurus visa. Cukup mengisi kartu imigrasi yang sering kita temui saat memasuki negara Malaysia atau negara ASEAN lainnya. Namun entah mengapa petugas imigrasi selalu membutuhkan waktu lama untuk memberikan stempel masuk pada halaman passport. Dari beberapa cerita, Maroko agak sedikit strict dengan pemegang passport Indonesia, karena seringnya ditemukan warga Indonesia yang menjadikan alasan tourism sebagai jalan masuk mencari kerja. Terlebih, negara kita masih menduduki posisi atas untuk urusan ketenagakerjaan. Aku lalu diurusi dengan perempuan muda berhidung mancung, bulu mata lentiknya tak berkedip saat memandangiku. Ia bertanya dengan bahasa Perancis.

“Sorry, I speak English!“, jawabku dengan bahasa Inggris.

Mungkin ia mendapat alasan lain untuk mencurigaiku. Entahlah, aku hanya merasa tak nyaman dengan caranya memandangiku. Ia tak lagi mengulang pertanyaannya namun dengan hati-hati membuka lembar demi lembar halaman passportku. Entah apa yang dicarinya. Aku menunggu dengan sedikit gelisah. Tas backpack di punggungku mulai terasa berat.

“Is it your first time to Morocco?” “Yes, first time!”

Ah, mungkin sejak awal ia menanyakan hal yang sama dan ia membutuhkan waktu beberapa menit untuk mencari terjemahan bahasanya. Entahlah. Passportku kini dibawa ke sebuah ruangan di samping kubikel pemeriksaan. Di dalam ruangan, ia nampak bercakap dengan lelaki separuh baya. Lalu kembali membolak-balikkan halaman passport. Bisa sobek passport itu karenanya. Aku mulai khawatir karena sejauh ini belum pernah menunggu se-lama ini di bagian imigrasi. Turis di belakangku pun mulai kesal berdiri terlalu lama. Beberapa orang pindah ke antrian sebelah. Aku makin kesal, tak ingin mendapat random check. Tak ada yang suka berlama-lama di bandara.

Perempuan perawakan Arab itu memasuki kembali kubikelnya. Tak ada pertanyaan lanjutan. Ia memberi dua stempel pada passportku dan menyerahkannya padaku. Aku mengecek kembali kelengkapan kartu residen EU dan Student ID yang aku selipkan di cover passport. Semuanya lengkap. Aku pun berlalu, tiga langkah lagi… And MARHABAN BIKUM FIL MAGHREB!!

Fes airport, morocco
Jejak Pertamaku di ujung utara benua Afrika, Airport Fes Sais.

Petualanganku dimulai ketika melangkahkan kaki meninggalkan bandara. Sekejap saja pintu otomatis itu membuka, aku dikerumuni beberapa lelaki menawarkan jasa antar. Sejenak terasa baru saja keluar dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dan menemukan lelaki-lelaki yang menghalangi jalan karena sibuk menawari jasa antar ke beberapa kota seperti Toraja, Bira, Bulukumba, bahkan ke Pantai Losari. Tetapi yang lebih aku butuhkan saat ini adalah seseorang yang bisa berbahasa Inggris. Aku menuruni tangga kecil yang tak jauh dari pintu masuk dan bertemu dengan pemuda jangkung yang menyapaku dengan bahasa Inggris terbata-bata. Tak lagi kuperhatikan wajahnya.

“Bab Boujloud, how much?” “30 Euro!” “No, Dirham! How much?”

Aku baru menyadari satu hal. Berbahasa Inggris dengan sempurna hanya akan membuat ia semakin bingung. Sepatah kata namun jelas, setidaknya tidak membuat kami miskomunikasi. Ia lalu mengantarku kepada seorang lelaki separuh baya yang aku tebak adalah seorang supir. Dan pemuda tadi hanyalah kernek pencari penumpang. Kepadanya, aku berbicacara lebih sopan.

“To Bab Boujloud is how much, Sir?”
“200 Dirham!”
“150 Dirham is okay?”
“180!”
“No, 150!”
“Ok!”

Di Maroko, tak ada fix price. Semua harga bisa ditawar termasuk taxi. Kami lalu berjalan ke sebuah mobil sedan tua berwarna putih keluaran Mercedes Benz model W123 yang diproduksi tahun 1970an. Sekilas teringat dengan jenis taxi di Malaysia yang seringnya beroperasi di kota-kota kecil atau biasa disebut Kampung. Seringkali aku menaiki taksi jenis ini dari kampus menuju stasiun kereta KTM, taksi Wira kami menyebutnya.

Kami meninggalkan Fes-Säiss Airport menelusuri gelap malam yang semakin jauh semakin sepi. Low Cost Airport memang selalunya jauh dari pusat kota. Aku tahu telah memasuki kota setelah mobil kami berhenti di perempatan jalan. Di samping kami, berjejer sepeda motor tua dengan jenis Yamazuki. Aku belum pernah melihat jenis motor seperti ini. Mungkin perpaduan Yamaha dan Suzuki, candaku.

Melewati traffic light, supir taksi berubah garang. Ia menancapkan gas seolah sedang berbalapan dengan motor Yamazuki tadi. Membelok sesuka hati. Aku berpegang erat pada jok mobil dan tersadar, mobil ini tak punya sabuk pengaman. Mungkin seperti ini rasanya menaiki mobil rampasan di Grand Theft Auto episode Vice City, dikejar polisi dan menabrak apa saja agar terlepas dari kejaran tetapi badan mobil hanya lecet sedikit. Wajar saja taksi ini bisa beroperasi hampir 40 tahun.

Sembari demikian, bapak supir tetap mengajakku mengobrol. Ia menanyakan asal dan tujuanku berkunjung ke Maroko. Sedikit kecele karena menyangka aku bisa berbahasa Arab. Dari ceritanya, bahasa sehari-hari orang Maroko adalah Arab. Bahasa Perancis dijadikan mata pelajaran wajib di sekolah dasar. Sebenarnya aku ingin menanyakan pengaruh Perancis terhadap negara bekas jajahannya ini, terlebih dengan pemerintah Islami yang dijalankan oleh Maroko dan membandingkan dengan kehidupan masyarakat Muslim di Perancis sendiri. Untuk pertama kali, aku menyesal menyiakan waktu tak belajar bahasa Arab.

Kami tiba di sebuah gerbang besar bercat warna hijau. Ornamen Islam sepertinya tak pernah lepas dari bangunan landmark negara ini. Inilah Bab Boujloud, pintu masuk souk dan medina Fes. Sembari menurunkan barang dari bagasi taksi, mataku menyapu satu-satu gedung-gedung di sekitar tempatku berdiri. Ada bank tepat di samping gerbang, bisa menukar uang juga di sana. Di seberangnya berdiri toko serba ada yang tampak tua dan berdebu. Kafe-kafe yang dipenuhi dengan lelaki-lelaki berbagai umur. Sepertinya orang Maroko gemar nongkrong di kafe.

Aku membetulkan letak tali tas ransel dan berjalan memasuki gerbang Boujloud. Seketika saja pelayan-pelayan restoran menghampiri. Aku memang sedang lapar dan merasa tak sabar mencicipi Tajine. Tetapi, menemukan hostel tempatku menginap adalah hal yang terpenting saat ini. Aku terus saja menyusuri jalan kecil, melewati berbagai gerobak jajanan dan toko souvenir. Memasuki lorong sempit yang ramai dengan jualan tas kulit, karpet, pakaian jadi, jilbab, dll. Semakin jauh melangkah, semakin ramai saja, seakan lorong ini tak berujung. Mataku awas mencari plang nama jalan di setiap belokan, butuh sedikit usaha untuk membaca plang yang tertutupi jualan baju atau tas. Aku berharap hostelku tak jauh dari sini.

Teringat saran beberapa kawan untuk tidak menanyakan jalan kepada sembarang orang jika tidak ingin menemui dua kemungkinan. Pertama, tak ada yang bisa menjawabmu kecuali kau bisa berbahasa Arab atau Perancis. Ke dua, kau akan ditunjuki jalan, bahkan diantar hingga ke tujuan dengan aman lalu dimintai bayaran tinggi yang kau susah untuk menolaknya. Aku pun urung untuk bertanya dan terus saja berjalan. Di satu persimpangan, aku membelok dan menemukan sebuah toko yang menjual simcard telepon. Sebaiknya aku hubungi saja pihak hostel dan memintanya menjemputku di Bab Boujloud. Travelling di Eropa membuatku mandiri untuk menemukan alamat hostel sendiri tanpa harus merepotkan orang lain. Di sana, aku dimanjakan dengan fasilitas yang memudahkanku menemukan alamat. Sepertinya aku akan kalang kabut di Maroko jika tak bertanya kepada orang lain.

Di dalam toko terdapat tiga kubikel kaca yang di dalamnya tampak telepon kabel. Ini wartel, pikirku. Orang-orang Maroko masih menggunakan wartel di zaman alat komunikasi yang serba canggih ini. Aku mengantri menunggu giliran. Seorang perempuan berjilbab sedang sibuk mengurusi tablet miliknya bersama pemilik toko. Aku taksir ia berumur 30-an. Aku menunggu di belakangnya hingga ia berbalik menyapa,

“Hi! Just arrive? Are you looking for something?”
“Yeah! Just now. I’m looking for a simcard!”

Ia lalu kembali bercakap dengan pemilik toko dan memberiku beberapa pilihan simcard. Aku memilih satu provider sesuai saran kawan yang sedang belajar di Marrakesh saat ini. Sebenarnya, aku sedikit was-was dengan perempuan ini. Khawatir setelah ini, ia akan meminta upah dari membantuku membeli simcard. Aku sadar, terlalu cepat berburuk sangka, tetapi apa salahnya merasa aware dengan orang asing, di negara asing, di hari pertama kedatangan.

“Who do you want to call?”
“A friend!”
“I can help you if want!”
“Ah.. thank you but I’m okay!”
“Actually this guy cant speak English. And he said, he doesnt have cutter for nano simcard for your phone, so you have to go to another shop!”

Bahasa Inggrisnya lumayan bisa aku pahami, berbeda dengan supir taxi dan pelayan-pelayan restoran di dekat gerbang tadi. Jika harus berpindah ke toko lain, aku batal saja mengurusi simcard ini. Lebih baik menemukan hostelku lebih dulu. Aku mengangkat kembali ranselku, tiba-tiba perempuan tadi kembali bersuara.

“I can show you the shop if you can wait for a lil bit.”
“Thanks, but I’m actually looking for my Riad!”, kataku jujur sembari menyodorkan alamat hostel yang aku tuju.
“Aha, I know this place! I can show you but give me some times!”

Aku masih bimbang untuk mengikuti ajakannya, tetapi aku juga sedikit putus asa mencari alamat di dalam labirin medina itu. Aku tidak menyangka hostelku terletak di dalam labirin pusat pertokoan. Perut pun semakin lapar, membuat situasiku makin parah saja. Perempuan ini sepertinya sedang khidmat mendengar tutorial cara menggunakan tablet yang masih baru. Artinya aku harus menunggu sedikit lebih lama jika ingin ikut bersamanya. Aku baru saja ingin menggunakan telepon di dalam kubikel wartel itu, ia kembali mengajakku mengobrol.

“Where are you from?”
“Indonesia. You?”
“I’m from here, but I stay in States!”
“America? Cool! What are you doing?”
“I’m in holiday so I come to visit my family here!”

Rupanya ia adalah turis lokal. Ia bekerja di sebuah restoran di Ontario dan sekarang sedang menikmati liburan dengan pulang ke rumah. Aku mengutuki diri karena berburuk sangka padanya padahal sedari awal aku sadar ia mengenakan jilbab. Kami lalu berkenalan dan mengobrol tentang Maroko. Aku banyak bertanya mengenai kota-kota yang patut dikunjungi selama 11 hari. Ia tidak menyarankan terlalu lama di Marrakesh. Oh okay!

Namanya Badia, ramah dan baik hati. Ia mengantarku ke depan hostel dan bertemu dengan pemiliknya. Sebelum berpisah, ia memelukku erat dan menciumi kedua pipiku. Aku sudah lupa kapan terakhir kali mendapat salam sehangat itu. Begitu tulus ia membantuku, pun mengucapkan doa singkat untuk keselamatanku selama di Maroko. Sepertinya ia membaca kecurigaanku padanya sewaktu pertama kali bertemu di wartel tadi. Ah, Badia! Siapa pun engkau, semoga kebaikan terus menyertaimu.

Aku memasuki Riad yang dipenuhi oleh marmer biru mengkilat dan bertemu dengan Nuruddin yang bertugas mengurusi keperluan tamu. Perawakan Nuruddin mengingatkanku dengan seorang kawan asal Sudan, berbadan besar tinggi, berambut ikal, dan berkulit hitam. “Ini Maroko, Afrika. Wajar!”, pikirku kemudian.

“Welcome to Fes! Please have a seat. I’ll make mint tea for you, with sugar or no sugar?”
“No sugar, please! Thanks!”

Aku menjatuhkan ransel yang sedari tadi memberati bahuku, menyandarkan punggung dan meluruskan kaki. What a journey!  Aku tak pernah kesusahan mencari alamat saat travelling, tapi kali ini malah kewalahan. Google Maps pun tak banyak membantu. Tidak semua sudut Fes terdeteksi Google. Harusnya kota ini menarik, karena aku bisa saja menemukan sesuatu yang tak ada di Google.

Nuruddin datang dengan membawa segelas mint tea. Daun mint memenuhi gelas. Jika daun mint dibuang, air teh mungkin hanya sepertiga gelas saja. Teh mint itu aku seruput juga, hangatnya memasuki kerongkongan, perutku pun perlahan menghangat. Suhu di luar mulai terasa dingin. Nuruddin menunjukkan kamarku di lantai 3. Terdapat 4 tempat tidur bertingkat, kamar ini diisi 8 orang. Dan aku tidak menemukan siapa pun di dalam kamar. Sepertinya mereka masih berada di luar.

“Do you know where can I find a good restaurant here?”, tanyaku pada Nuruddin. “I’ll take you, dont worry!”

Kami berjalan keluar Riad melewati pintu kayu dengan ukiran yang unik. Tak ada door knob kecuali bulatan besi yang menggantung di tengahnya, berfungsi sebagai bel jika diketukkan, juga sebagai gagang pintu. Kami hanya mengobrol basa-basi. Fes pada malam hari berubah menjadi musim dingin di Eropa. Aku merapatkan jaket, angin seperti menggerogoti isi perutku yang kosong. Nuruddin terus bercerita tentang Kota Fes, aku hanya mengimbangi langkahnya. Ia sepertinya tak sadar jika aku tak begitu tertarik dengan ceritanya.

Kami tiba di sebuah restoran tak jauh dari Bab Boujloud. Nuruddin memohon diri untuk kembali ke Riad, ia masih harus menyelesaikan pekerjaan malam ini. Ia memintaku untuk menghubunginya setelah selesai makan nanti. Ia lalu mengenalkan seorang pelayan dan membantuku membaca menu. Restoran ini terletak di lantai dua, dilengkapi dengan balkon dengan view Medina Fes. Desain interior khas Maroko dengan sofa panjang, bantal, selimut hangat, dan karpet tebal.

tagine
Sepiring tagine menutup malam pertama di Maroko.

Aku memesan Tagine, salah satu makanan terlezat di Maroko. Tagine tersedia dalam beberapa pilihan seperti daging kambing, daging sapi, daging ayam, ikan, bahkan sayuran. Pilihanku jatuh pada Lamb Tagine with vegetables. Setelah beberapa menit, daging kambing pesananku tiba, tersaji di atas piring kuali dengan penutup berbentuk kerucut. Tagine ini dinikmati dengan salad dan buah olive hijau. Asap mengepul di atasnya ketika aku membuka tutupnya. Potongan-potongan daging kambing yang lembut mencuat diantara sayuran segar. Sekejap saja wanginya memenuhi ruangan, semerbak aroma bumbu khas membelai-belai indra penciumanku. Aku tergoda, perutku meronta. Aku takluk di atas sepiring Tagine yang mahsyur. Malam pertamaku di Maroko berlalu dengan manisnya.

Bersama dingin, adzan subuh terdengar samar-samar menyeruak di sela-sela jendela kamar. Melelapkan tidur para pejalan yang meringkuk di bawah selimut tebal. Meskipun Maroko tak bersalju, bukan berarti dingin tak menghampiri negeri ini. Aku terbangun dan bergegas merapikan diri. Terbiasa dengan adzan dari gadget, pagi ini terasa istimewa. Begitu melankoli mendengar sahutan adzan dari menara-menara masjid.

Dari tempatku berdiri kini, kerlip bintang berhamburan di atas hitam pekat langit. Satu dua lampu rumah penduduk Fes menyala, kemudian dipadam lagi. Beberapa orang terlihat bergegas keluar rumah menuju masjid. Atap Riad tempatku menyaksikan pertunjukkan subuh hari disulap menjadi terrace yang dilengkapi dengan meja dan kursi kecil. Nampaknya nikmat sekali bersantai di atas sini saat musim panas. Pun, Riad ini dilengkapi dengan karpet untuk duduk melantai bersama segelas teh manis dan sepiring pisang goreng untuk sarapan. Ah, seandainya ini di pinggir Losari!

Angin bertiup memainkan penutup kanopi, membuyarkan khayalanku tentang rumah. Langit masih gelap gulita dengan bintang cemerlang menerangi puncak dua bukit kecil di penghujung kota ini. Aku terjebak dalam kerangka gelap di persimpangan nyata dan maya. Bulatan pikiran mengembun, menetes menampakkan rupa. Sunyi menenggelamkan jiwa. Inilah subuh yang datang bergaun dingin. Di tangannya, terbungkus berkah Maha Rahman yang siap dibagikan kepada para pejuang pagi. Di keningnya, terlantunkan seruan Rabbi. Aku bersimpuh merajut doa dan menitipkannya pada malaikat subuh yang mulai sibuk bekerja. Aku khidmat bermesraan dengan pagi pertamaku di ujung utara benua Afrika.

Dear Allah, terima kasih untuk hangat yang berdesir di sini…

Fes
Subuh di Fes, Maroko

Menemui Jejakmu di Pasir Gurun Sahara

Gurun Sahara
Merangkai Jejak di Gurun Sahara

Gurun Sahara, Maroko. Matahari terakhir di bulan Desember 2014, pisau-pisau cahaya menembus prisma kaca jendela menyerupa warna pelangi. Subuh hampir berlalu, aku masih meringkuk di bawah selimut tebal. Dingin merayapi seisi ruang kamar sejak semalam. Entah berapa temperatur udara di luar sana. Saat musim dingin seperti ini, suhu Maroko selalu berada di titik terbawah saat pagi hari, dinginnya membekukan ujung jemari. Membuka mata sama beratnya dengan menyingkap selimut. Seperti tak rela meninggalkan kehangatan di atas kasur.

Jonas, pemilik Riad, mengetuk pintu kamar dan mengabari untuk segera bersiap. Yunus sedang menunggu di depan gerbang kota tua. Aku pun bergegas meninggalkan Riad dan menyusuri kembali lorong-lorong Medina yang masih sepi. Pagi ini, bagaikan menyusuri kota mati yang ditinggal penduduknya.

Dari kejauhan, Yunus sedang khidmat menghisap batang rokok di antara jemarinya. Asapnya mengepul di telan hawa dingin. Ia bersandar pada pintu mobil Prado, kendaraan 4WD ini terlihat perkasa di antara taksi-taksi reot yang berjejer di sampingnya. Yunus mengenalkan Dustin dan Lauren kepadaku, sepasang kekasih muda yang berasal dari Inggris dan Amerika. Aku akan bergabung dengan tim mereka hari ini. Bunyi bahasa Internasional tentu akan menggema sepanjang perjalanan hingga ke Sahara. Great!

Aku mencari posisi ternyaman dan memasang sabuk pengaman, bersiap melewati 8 jam perjalanan menuju Merzouga. “Kalo ini naik Emirates dari Dubai, 8 jam lagi sudah sampai Jakarta saya!”, serayaku dalam hati.

Obrolan di dalam mobil dimulai dengan menceritakan kota asal kami dan bagaimana kami tiba di kota ini. Aku menilai Dustin dan Lauren adalah pasangan kekasih yang menyukai traveling. Berpetualang bersama orang yang dicintai adalah hal yang paling romantis bagi mereka, tak masalah jika tempat itu sudah pernah dikunjungi. “It’s not about where you go, but it’s who you travel with!”, seolah seperti itulah yang ingin disampaikan Lauren kepadaku. Dan petuah itu tentu tak berlaku untukku yang akhir-akhir ini menyukai berpetualang sendiri.

Rumah berdinding lumpur kering
Rumah berdinding lumpur kering

Matahari mulai meninggi, kami memasuki kota Azrou. Rumah-rumah berdinding cluster lumpur berbaris rapi di bawah lembah, di sana sebuah padang hijau ramai dipenuhi keledai-keledai yang sedang merumput. Kemudian berganti dengan rangkaian bukit-bukit batu yang berdiri kokoh. Kami kini berada di kaki Pegunungan Atlas, pegunungan yang membentang sejauh 2000 km yang juga melewati Algeria dan Tunisia. Puncaknya setinggi 4167 m bernama Jebel Toubkal selalu menjadi tempat favorit para pendaki yang mencintai tantangan.

Mendekati kota Errachidia, terdapat Barrage Al Hassan Addakhil, sebuah bendungan air sepanjang 30,86 km ini mengutip nama dari salah satu keturunan bangsawan di zaman Dinasti Alaouite. Al Hassan Addakhil berasal dari Hejaz, sebuah kota di bagian barat Saudi Arabia. Ia dibawa ke Maroko pada abad ke 13 karena dipercaya kehadirannya dapat menambah berkah pada perkebunan kurma. Ia juga adalah keturunan Nabi Muhammad SAW dan diangkat menjadi imam oleh penduduk kota Tafilalt.

Perjalanan mendekati
Perjalanan mendekati Errachidia

Meninggalkan Barrage Al Hassan Addakhil, kami melewati jalan yang berkelok diantara bukit bebatuan yang mulai ditumbuhi rumput hijau. Salju tampak menghiasi sisi-sisi jalan dan sebagian badan bukit. Selama hampir 8 jam perjalanan, kami disuguhi masterpiece sempurna yang dimiliki bumi ini; pegunungan berbatu, padang rumput yang luas, bendungan air yang juga dijadikan tempat memancing, bukit-bukit bersalju, dan sebentar lagi kami akan tiba di sebuah gurun pasir.

Aku duduk termangu, bersandar pada bantalan kursi. Di depan mataku, Tuhan sedang menunjukkan sebuah pameran alam yang membuatku semakin kerdil. Tak ada makhluk yang bisa menyamai lukisan-Nya. Dia menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi. Disertakan pula sebuah peta sebagai petunjuk jalan agar mereka tidak tersesat. Dijadikannya manusia sebagai makhluk teristimewa dengan menganugerahi kedahsyatan berpikir yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Pun, manusia mendapat kebebasan untuk meniti jalan mana yang ingin dilalui. Tetapi, hanya ada satu jalan utama menuju Tempat Yang Kekal dan satu-satunya bekal terbaik dalam perjalanan adalah ketaqwaan.

Sisi pegunungan Atlas
Pegunungan Atlas

Juga perjalanan ini menyimpan pelajaran lain, tentang pentingnya berhati-hati. Sebab tak ada yang pasti sebelum mati. Pintu-pintu kemungkinan akan selalu terbuka, perbuatan salah pun kadang menjadi bentuk ketaatan pada sunnatullah yang telah ditetapkan. Karena tak ingin jiwa ini tenggelam dalam keputus-asaan, maka anugerah yang paling indah untuk makhluk yang telah tertakdir pasti berbuat salah adalah ampunan dari Al-Muqtadir. Sang Pemilik Kekuatan yang sewaktu-waktu bisa saja merobohkan langit, menerbangkan pegunungan, dan menggulung lautan. Semoga Dia tak berhenti mendekapku dalam tegar, dalam kuat, dalam jalan-jalan panjang yang tak berhujung sesat.

Langit semakin cerah menyilaukan mata kami, tetapi hangatnya seakan semu saat Yunus menurunkan kaca jendela. Suhu dingin seketika menjalari badan. Kami protes, meminta Yunus menaikkan kembali kaca jendela. Benar saja, selama perjalanan kami merasa nyaman karena ia tak pernah mematikan car heater. Aku masih sering lupa mengubah mindset bahwa Benua Afrika itu selalu panas. Padahal sengaja aku meninggalkan salju di Jerman demi mengejar hangat di Afrika. Nyatanya, Maroko tetaplah panas saat musim panas dan dingin saat musim dingin. Suhu dingin di Jerman dan suhu dingin di Maroko sebelas dua belas.

Gumuk pasir
Dunes

Mesin mobil 4WD semakin menderu saat kami melihat hamparan sand dune atau gumuk pasir, sebuah morfologi ukiran angin yang membawa pasir-pasir sehingga membentuk gundukan serupa bukit kecil. Sekilas terlihat seperti riak-riak ombak di pantai yang dipermainkan angin. Pintu Sahara semakin jelas terlihat.

Yunus menambah laju, kerikil kecil dan pasir beterbangan menutupi kaca depan. Ia sedang di atas angin, memamerkan kehebatannya memainkan persneling. Aku takjub sekaligus terombang-ambing merasakan sensasi Off Road di atas mobil yang baru pertama kali aku naiki seumur hidup.

“We will arrive shortly! First, I will drop you all at the hostel. You can rest for a while, then prepare yourself for Sahara. Bring all you need for one night and leave the rest in the hostel. Later, my brother will assist you all!”, sebuah briefing kecil dari Yunus di tengah drift-drift yang dilakukannya. Ia tidak peduli dengan tangan-tangan kami yang erat menggenggam, menahan badan sendiri agar tidak saling bertabrakan. Sepertinya ia sedang mengerjai kami. Huh!

Riad di Merzouga
Riad di Merzouga

Kami tiba di sebuah pekarangan luas, terdapat empat gedung Riad yang terpisah dan sebuah kandang kecil yang dikelilingi pagar lumpur kering setinggi badan. “I’m leaving you all here. Tomorrow, I’ll pick you up again around 10AM. Have fun and Happy New Year!”, kata Yunus kepada kami lalu beranjak pergi. Petualangan yang sebenarnya akan dimulai sebentar lagi.

Di luar pagar, unta-unta sedang duduk rapi, dua orang gembala memasukkan tas-tas kecil ke dalam kantong yang digantung di punuknya. Aku tak sabar ingin menyusuri Gurun Sahara bersama unta-unta itu. Persiapan untuk malam ini sudah tersusun rapi di dalam ranselku, tak lupa membawa extra jaket, obat-obatan, tissue basah, makanan dan minuman ringan.

Empat orang turis menghampiriku. Mereka juga akan bergabung dalam tim kami. Setelah berkenalan, mereka rupanya geng traveler yang berasal dari Spanyol dan Belanda. Rombongan petualang ini akan semakin ramai.

“How long do you think we will ride on this creature?”, tanyanya padaku. “I have no idea! Probably we’ll arrive at the camp before night!”, jawabku.

Satu pemandu membantuku menaiki punggung unta. Aku memilih unta paling depan dan melompat untuk mencapai punuknya. Dengan satu tepuk, “Hop!”, untaku pun berdiri. Dua kaki belakangnya tegak lebih dulu, lalu diikuti dua kaki depan. Aku merasakan sensasi mual di perutku. Butuh waktu beberapa menit untuk menemukan posisi ternyaman di atas punggungnya.

Senja terakhir
Senja terakhir

Pelan-pelan kemuning senja menyirami bulir-bulir pasir. Matahari terakhir di tahun 2014 perlahan tenggelam di batas cakrawala langit. Aku terhempas di tengah gurun Sahara, mencoba mengikuti ritme kaki unta yang aku tunggangi. Seujung pandang hanyalah padang pasir dan iringan unta yang membawa rombongan kami. Semakin jauh kami berjalan, sunyi senyap turut mengikuti. Sepertinya kami masih sedang melawan rasa takut untuk duduk di atas punggung unta yang tinggi, atau kami hanya sedang bermeditasi memandangi senja dan pasir gurun yang kini berwarna keemasan.

Pemandu kami tiba-tiba melepas tali untaku yang sedari awal menjadi penuntun jalan. Sontak saja aku panik tapi terlalu takut untuk bergerak. Pemandu bersorban itu berlari menaiki bukit pasir. Dari atas sana, ia berteriak dengan bahasa Inggris beraksen Afrika, “See you in Timbuktu!”, kemudian menghilang di balik bukit.

Timbuktu? Aku sering mendengar nama kota ini, entah mengapa para traveler selalu menjadikan kota ini sebagai tempat untuk menyendiri dan tersesat. Aku pun bingung mengapa orang-orang yang mengaku traveler begitu terobsesi dengan kata tersesat? Padahal Timbuktu hanyalah kota kecil yang berada di pinggir Sungai Niger di Mali, cukup jelas di peta sebagai pintu selatan Gurun Sahara.

Rupanya, pemandu ini ingin kami merasakan feel dari tersesat. Ia meninggalkan kami bersama unta-unta yang saling bertalian, membuat kami merasa terperangkap di tengah gurun pasir. Unta-unta ini pun terdiam, mereka tak bergerak tanpa perintah tuannya. Kami juga ikut terdiam, terjebak dalam kesunyian di atas punuk unta.

Dalam senyap, aku menelusuri bilik-bilik hati mencari  sesosok di tengah rumitnya labirin waktu. Menerka satu rupa. Namun kudapati rindu tumbuh di antara remah-remah pasir gurun. Kutanyakan kembali kau pada-Nya, adakah nama yang diinginkan-Nya? Hening… karena rindu juga sedang mencari hati.

Namun perjalanan ini tak lagi tentang mencari, tetapi menemukan. Mari berjalan lagi… Temukan banyak tanda, temukan banyak doa. Mana tahu ada jeda, tempat aku dan kau bisa saling menunggu. Bukankah Dia akan menemukan kita saat dalam kebingungan, kemudian memberi petunjuk? Mari berjalan lagi!

Sahara Merzouga
Pasir Sahara

Tetiba pemandu kami kembali, tali kekang unta dipegangnya lagi. Rombongan kami melanjutkan sisa perjalanan menyusuri Sahara. Malam pun menjadi pekat, entah berapa lama lagi kami harus berada di atas punggung unta ini. Hewan yang mampu bertahan di temperatur udara yang bisa membunuh mayoritas makhluk hidup. Tungkai kakiku mulai kram, tenda-tenda kami belum juga terlihat. Cahaya rembulan pun tak mampu menerangi jalan kami. Sementara pemandu bersorban putih itu berjalan dengan langkah terseok di atas pasir. Semoga saja ia tak sedang tersesat.

Kerlip cahaya mulai terlihat. Di ujung sanalah tenda-tenda kami didirikan. Aku sedikit lega, duduk ‘ngangkang’ selama sejam di atas punuk unta benar-benar tak nyaman. Jemari-jemari tanganku mulai beku. Dinginnya malam Sahara menyambut kami.

Aku takjub melihat unta-unta yang begitu sabar menunggu giliran. Pemandu mengizinkan kami turun satu per satu. Unta yang sedari tadi dipegang tali kekangnya patuh dalam perintah untuk berlutut, diikuti unta ke dua, ke tiga, dan seterusnya. Hanya dalam sekali aba-aba, unta-unta itu pun berlutut setelah unta didepannya duduk lebih dulu.

Jelajah Sahara
Jelajah Sahara

Aku mengenal unta pertama kali dari buku-buku semasa SD. Kini unta semakin istimewa setelah aku mendengar kisah-kisah Nabawiyah bersama seorang guru. Adalah Al-Qashwa, seekor unta yang sering kali disebut dalam jejak sejarah kerasulan Nabi Muhammad SAW. Unta yang berperan utama menjadi penentu letak pembangunan Masjid Nabawi dan rumah tempat Rasulullah SAW menginap setelah hijrah dari Mekkah ke Madinah. Dan juga seekor unta betina yang lahir dari batu karang besar sebagai mukjizat Nabi Saleh as. Unta ini mati dibunuh oleh kaum Tsamud yang tak mau mengikuti risalah Nabi Saleh as, hingga azab pun menimpa mereka. Kaum Tsamud binasa, lenyap dari muka bumi karena guncangan gempa yang dahsyat. Kini, yang tersisa hanyalah bukti kejayaan mereka pernah mengukir batu karang besar menjadi bangunan-bangunan megah di Kota Petra, Jordan saat ini. Aku menyimpan kota ini ke dalam daftar perjalananku, nanti.

Kami tiba di lokasi tenda untuk malam ini. Terdapat tenda untuk tidur, diberi sekat sebagai pemisah ruang. Ada pula tenda yang berisi kursi kayu dan meja panjang, dijadikan sebagai ruang makan. Dan, satu tenda untuk memasak. Kami berkumpul di satu tenda besar, menanti menu makan malam yang akan disajikan. Aku berharap ada teh mint dan daging kambing hangat. Aku menggigil karena dingin, juga lapar.

Sembari menunggu, kami bersenda gurau di atas meja makan. Ada rombongan lain yang tiba lebih dulu. Aku tak tahu dari mana asal orang-orang ini. Kami hanya mengobrolkan apa saja, tanpa tahu nama masing-masing. Ruangan ini semakin hangat meski tanpa listrik dan pemanas ruangan. Dan terasa semakin istimewa tanpa gadget, sebuah kebersamaan yang begitu langka ditemui.

Selesai menyantap makan malam, kami berpindah ke luar tenda. Api unggun sedang dinyalakan untuk penerang malam ini. Gendang-gendang mulai ditabu, para musisi padang pasir memainkan melodi Sahara. Kami duduk bersama, dipeluk hangat dalam kobaran api unggun.

Api Unggun
Api Unggun

Pukul 11, belum ada yang beranjak. Aku menahan kantuk, serba salah. Masuk ke tenda dan tidur sekarang ini sepertinya percuma, sebentar lagi pasti akan terbangun karena bunyi petasan dan kembang api. Aku kembali mendekatkan kedua telapak tangan di sekitar api unggun, teman-teman baruku asyik bercerita tentang diri sendiri. Tujuan yang sama membawa mereka ke tempat ini: merayakan sensasi tahun baru di Gurun Sahara.

Sementara aku? Aku dijebak masa. Jika boleh memilih, aku tak ingin 2014 cepat berlalu. Tahun baru tak pernah menarik di mataku. Bagiku, pergantian tahun adalah sebuah alarm. Ada saja yang harus aku capai sebelum waktuku benar-benar habis. Namun, nyatanya, akhir-akhir ini aku malah sibuk menikmati jeda, membenahi keinginan untuk memulai. Entah pasrah, diselimuti kemalasan, atau memang tak peduli. Aku menjadi sangat nyaman dengan diri sendiri yang tak pernah merasa sepi. Walau aku tahu waktu tak sedetik pun mau menungguku.

Menjelang pukul 12, kawan dari Yunani memberi tanda. Tahun 2015 hanya dalam hitungan detik. “5..4..3..2..1.. Happy New Yearrrrr!”, serentak kami menyambut pergantian tahun. Hanya kami dan tiga buah gendang kecil. Di sini tak ada keramaian, setidaknya tak ada suara berisik kecuali dari tenda kami sendiri. Tak ada petasan apalagi kembang api. Meskipun begitu, alarmku berdering nyaring. Tiba waktunya untuk terbangun, terbangun dari mimpi-mimpi dan khayalan kosong. Mampukah aku? Darimana harus memulai?

Aku pamit dan meninggalkan lingkaran api unggun. Memasuki tenda dan merebahkan diri di atas kasur berpasir, menyelimuti diri dengan kain tebal. Aku menyibak kain penyekat, membiarkan cahaya api unggun menerangi sisi-sisi gelap tenda. Masih samar terdengar suara teman-temanku yang asyik menikmati detik-detik awal tahun. Tetapi labirin pikiranku kembali sepi.

Aku mengintip langit, adalah malam terindah yang pernah aku lewati, setelah malam dari lembah kaki gunung di kotaku. Gemerlap bintang sedang membentuk asterik penunjuk arah, semestinya tak ada yang tersesat malam ini. Tak terkecuali kau. Semoga keheningan ini menghapus ragumu, juga raguku. Merangkul setiap jiwa dalam sepi. Penantian seharusnya mendekatkan diri kepada Pemilik Langit, maka jangan kau biarkan keresahan hati menjauhkan-Nya darimu.

“Kenro pole maggoliling, usappa mata tokki, ulele makkutana ri to Masagalae? Pole alauka denre, ri lipunna siyatikku, iyami napoada sappano ana’ tanca”. – Kemanalah kau menjelajah, aku pun mencarimu di ujung pandangku, kutanyakan pula kau Pada Maha Segala? Baru saja aku kembali dari relung hatiku yang terdalam, Ia berkata padaku, pilihlah yang terbaik! – Tenri Ukke, Buluna Paddaeng. [Sajak Bugis]

Embun pagi dipeluk beku di atas hamparan pasir. Rupa fajar membawa kembali sepi sisa semalam. Di atas jejak gurun berpasir ini, aku menyapa-Mu dalam harap, “Semoga aku menemukan yang terbaik dalam jalan-Mu”.

Merzouga
Jejak di Sahara

Monolog Senja dari Dermaga Nyhavn

Dermaga Langelinie
Dermaga Langelinie

Nyhavn, Copenhagen. Tak ada yang lebih menyenangkan selain berada di pinggir pantai saat musim panas. Aku pun mencari batas antara daratan dan perairan di kota Copenhagen ini dan berjalan menyusuri sebuah dermaga panjang. Barisan yacht-yacht kecil terikat di bibir dermaga Langelinie. Tenang ombak Selat Oresund memantulkan bias biru langit. Sebuah kapal pesiar melintas membawa para turis menikmati wisata laut, mengantar pandanganku jauh ke Pulau Amager yang dipenuhi besi-besi baja pengangkut logistik dari kapal-kapal barang.

Putri duyung
The Little Mermaid

Keramaian Langelinie mulai terasa ketika aku mendekati sebuah patung. Jejeran pedagang souvenir menjajakan cenderamata yang menjadi ikon Copenhagen. Miniatur The Little Mermaid dijual dengan berbagai ukuran. Aku teringat dengan dongeng The Little Mermaid yang menjadi salah satu cerita favorit di masa kecil. Dongeng ini menjadi contoh bahwa tidak semua cerita berakhir bahagia. Si Putri Duyung dalam karangan Hans Andersen menceritakan tentang seorang Putri Duyung yang hidup di bawah laut dan mengorbankan suara indahnya demi sepasang kaki agar ia bisa berjalan bersama Pangeran yang hidup di daratan, namun menjadi sia-sia ketika sang Pangeran memilih menikahi Bertilda, seorang gadis dari bangsa manusia. Pengorbanannya pun belum berakhir ketika ia harus kembali ke laut dan menjadi buih sesuai dengan janjinya kepada si Penyihir jahat.

Denmark juga terkenal dengan sebutan Negeri Dongeng. Seorang penulis novel dan puisi memperkenalkan The Little Mermaid ke dunia anak-anak yang menjadi inspirasi Disney membuat film-film animasi. Dari tangan Hans Christian Andersen lah dongeng-dongeng sebelum tidur menjadi bagian masa kecil kita yang penuh imajinasi.

Dongeng The Little Mermaid ini sebenarnya diceritakan dalam dua versi, versi Disney dan versi asli dari Hans Christian Anderson. Namun keduanya menyampaikan pesan moral yang sama: “kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah ketika kita dicintai oleh orang yang mencintai diri kita yang sebenarnya tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain”.

Terdapat 14 replika patung The Little Mermaid yang tersebar hampir di seluruh dunia, termasuk di Amerika, Brazil, Rumania, dan Spanyol. Dari seorang penjaja souvenir di sekitar dermaga, patung The Little Mermaid yang aku potret ini pun masih replika. Patung aslinya disimpan di tempat rahasia yang hanya diketahui oleh keturunan Edvard Eriksen, sang pemahat patung.

Pintu Dermaga
Pintu Dermaga

Aku pun meninggalkan kenangan masa kecil bersama The Little Mermaid di dermaga Langelinie. Aku kembali berjalan menelusuri Amaliegade menuju Ll. Strandtraede melewati Design Museum dan Marble Church. Marble Church ini memiliki kubah yang mirip dengan Berliner Dome.

Hari semakin sore, burung-burung camar terbang rendah di antara bangunan kuno Copenhagen. Dentingan lonceng sepeda semakin riuh meminta jalan diantara para pejalan kaki di persimpangan jalan St. Anna Plads. Sebentar lagi romantisme kehidupan malam Copenhagen akan segera mulai. Aku telah menemukan tempat yang tepat untuk menikmati senja.

Orang-orang Copenhagen memiliki tempat untuk menghabiskan sore bahkan hingga larut malam. Nyhavn atau New Harbour tak pernah sepi dikunjungi turis maupun penduduk lokal. Jejeran gedung warna-warni dari kedua sisi kanal memberi kesan berbeda di setiap musim. Saat musim panas, restauran dan bar membuka tenda-tenda outdoor yang berjejer di pinggir dermaga, memberikan keleluasaan kepada para pengunjung untuk menikmati hangat matahari. Dan saat musim dingin tiba, bar dan restauran ini pun tetap buka dengan tampilan yang berbeda, kursi-kursinya dilengkapi dengan selimut dan lilin sebagai penghangat di atas meja. Karena itulah Nyhavn mendapat gelar “The Longest outside Bar in Scandinavia”. Meskipun begitu, Nyhavn menyimpan sejarah buruk di masa silam. Ia menjadi tempat para pelaut ‘menghibur diri’.

Dari pinggir dermaga inilah Hans Christian Andersen pernah menghabiskan hidupnya melahirkan karya-karya fenomenal yang masih bisa dinikmati hingga hari ini. Aku pun menyimpan tanya, apa yang rasakan Hans Christian Andersen ketika tinggal di tempat ini?

Semilir angin mulai menciumi kemuning senja, menyatu bersama putih, biru, merah dinding rumah. Membiaskan cerah warna pelangi di permukaan air Nyhavn. Kapal-kapal dagang klasik tenang bersandar di bibir galangan, diam-diam mencuri dengar percakapan manusia dalam segelas bir.

Dongakku menengadah langit, merdu nyanyian camar mengingatkanku pada sebuah senja jauh dari tempatku berdiri, juga ke sebuah pantai yang kini telah berubah menjadi beton kokoh di kota kelahiranku. “Labunni essoe turunni uddanie, wettunani massenge ri tau mabelae – Matahari telah terbenam, rindu pun tiba. Saatnya merindukan seseorang yang nun jauh disana.” Begitulah orang-orang Bugis di kampungku bercerita tentang rindu melalui monolog senja.

Kuhabiskan waktu di Nyhavn hingga senja benar-benar terbenam tergantikan bulan di pekat malam. Keriuhan Nyhavn belum juga usai, atau mungkin babak baru sebuah kehidupan baru saja dimulai di sana, diantara kerlip lampu sepanjang kanal.

Lirihku dalam perjalanan pulang, meninggalkan semarak pantulan cahaya di atas Selat Oresund, “Aku tak punya cara lain selain menitipkan rindu pada riak air yang bertasbih, pada rinai angin yang berlafadz lirih, pada bias senja yang menari. Kunanti kau melewati jalan ini, hingga akad terucap fasih!”

Senja di Nyhavn
Senja di Nyhavn

Moulay Idris, Kota Kelahiran Maroko

Moulay Idris, Meknes
Moulay Idris, Meknes

Moulay Idris. Hari semakin siang ketika aku tiba di Riad di kota Meknes. Waktu begitu cepat berlalu setelah pertemuanku dengan Sidi dan dua kawan Jermannya. Aku menyimpan ransel dan mengambil kamera, kemudian bergegas meninggalkan Riad. Tujuanku hari ini adalah Moulay Idris Zerhoun, sebuah perkampungan di kaki Gunung Zerhoun.

Aku menunggu taksi di sisi jalan Place el Hadim. Tak sabar mengunjungi Moulay Idris yang menjadi titik nol negara Maroko. Sebuah taksi berhenti di depanku. Seorang supir tua menyapaku tanpa senyum,

“To Moulay Idris is how much?”, kataku padanya.

Ia tak menyebut angka tetapi memberi isyarat untuk naik saja. Aku naik dan membanting pintu dengan keras, untuk memastikan pintu tertutup rapat. Mobil ini terlalu tua untuk dioperasikan menjadi taksi. Belum juga tenang aku duduk di dalamnya, Bapak supir ini mengajakku berdebat. Betapa susahnya berkomunikasi jika tak tahu bahasa lokal. Aku dan supir taksi ini berkali-kali berargumen, sementara laju taksi semakin melambat. Aku curiga akan ditipunya. Ia bisa saja tidak membawaku ke tempat tujuanku lalu memaksaku membayarnya.

“No, I’m not going to Ibis Hotel. I want to go to Moulay Idris!”, aku kesal, ia belum paham juga destinasiku.
“§#/&5%$/#… Taxi… &%§$%/&#&.. Ibis!”, sepertinya ia juga kesal.
“Yeah, with your taxi to Moulay Idris! How much is it?”, ia belum menyebutkan harga sedari tadi.

Ia tak menjawabku, malah menambah laju mobil. Kami berdua terdiam. Aku menurut saja, selama ia tidak membawaku ke tempat yang sepi, aku rasa aku aman. Tak lama kemudian, kami tiba di sebuah gang kecil yang dipenuhi oleh mobil putih, mirip dengan taksi di Bandara Fez kemarin. Ia memaksaku turun dan meminta ongkos 5 Dirham. Ia tidak sedang menipuku. 5 Dirham adalah harga yang normal.

“Moulay Idris… Taxi…!”, kata Bapak Supir sembari menunjuk sekelompok orang di sekitar jalan itu.

Aku turun dengan keadaan bingung. Mungkin ia kesal denganku dan memintaku mencari taksi lain saja. Aku merasa ia mengusirku. Entahlah. Aku memberinya sejumlah Dirham yang ia minta dan berjalan mendekati sekelompok orang yang ditunjukinya tadi. Mobil-mobil putih itu terparkir kosong ditinggal pengemudinya. Tempat ini terlalu kecil untuk disebut sebagai terminal, karena hanya terletak di sebuah lorong kecil tak beraspal di belakang sebuah gedung tinggi. Lalu, seorang pemuda menghampiriku,

“Moulay Idris.. Volubillis, Madam?”, perawakannya seperti anak SMA yang sedang bolos sekolah.
“Moulay Idris!”, kataku.

Ia membawaku ke sebuah mobil putih. Di seat depan, duduk 2 orang perempuan Muslim. Jok belakang masih kosong. Ia memintaku membayar 10 Dirham sebelum menaiki mobilnya. Murah sekali transpor ke Moulay Idris ini. Padahal setahuku, membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan menuju kaki Gunung Zehroun itu. Ia pun memintaku duduk di jok belakang.

Sejenak aku mengerti taksi jenis ini tidak mengantar satu penumpang saja. Ia harus mengumpulkan penumpang lain yang memiliki tujuan yang sama. Artinya, aku harus menunggu sedikit lebih lama sampai semua seat terisi. Dua seat depan telah diduduki dua perempuan tadi. Tampaknya bukan turis.

Belum juga 10 menit, taksi kami pun bergerak meninggalkan area ‘terminal’ kecil ini. Di jok belakang, diduduki oleh empat orang termasuk aku sendiri. Aku terhimpit di pinggir jendela, dua lelaki Arab nan tinggi dan besar baru saja melengkapi kapasitas penumpang yang diinginkan oleh supir taxi. Mobil sedan dengan jumlah penumpang 3 orang duduk di depan dan 4 orang duduk di belakang.

Jalan yang mendaki dan berliku serta keadaan badan yang terjepit orang-orang Arab membuatku sedikit mual. Terasa makin parah karena perutku kosong sejak siang tadi. Aku mengalihkan perhatian dengan menghitung barisan pohon-pohon buah zaitun yang tersusun rapi sepanjang jalan. Satu dua bus melewati kami. Keadaannya tak jauh berbeda dengan taksi ini.

Penuh sesak orang-orang bergelantungan di dalamnya. Pahamlah aku maksud supir taksi di Place el Hadim tadi. Ibis yang ia maksud adalah bus besar, bukan hotel. Ia menanyakan apakah aku ingin ke Moulay Idris menaiki taksi atau bus. Dan aku bersikokoh ingin menaiki taksinya karena telah duduk manis di dalamnya.

Aturan, Petit Taxi hanya boleh beroperasi di dalam kota Meknes. Untuk ke pinggiran kota harus menggunakan taksi jenis lain. Moulay Idris terletak bukan di dalam kota Meknes. Dan bus menuju Moulay Idris lebih jauh dari Place El Hadim. Karena itulah ia membawaku ke ‘terminal’ kecil khusus Grand Taxi. “Udah salah, ngotot lagi… I’m sorry, yaa Uncle!”, umpatku dalam hati, padahal Bapak Supir taksi tadi sebenarnya berniat membantuku untuk tidak membayar ongkos taksi lebih mahal. Penyesalan kedua karena tak bisa berbahasa Arab.

Kami tiba di Moulay Idris, wangi daging panggang mulai tercium sekejap saja ketika aku meninggalkan area parkiran. Sahut-sahut pelayan restauran berebutan mengajak kami untuk mampir. Aku memilih satu restoran paling depan, karena mereka memanggilku “Indonesi…”. Penghargaan kecil untuk mereka karena berhasil menebak negara asalku. Sebelumnya, orang-orang Maroko selalu menyangka aku berasal dari Filipina, Malaysia, bahkan Jepang. Di restauran itu aku memesan Kefta, daging cincang yang dibulat-bulatkan kemudian dipanggang. Di restoran Turki, mereka menyebutnya Köfte.

Sembari menunggu pesanan, pelayan datang membawakan satu keranjang roti dan sepiring buah olive. Aku menyukai buah olive buatan Maroko ini, rasanya sedikit asin dan masih mengkal sehingga tidak terlalu pekat. Berbeda dengan sajian buah olive milik Turki yang terlalu matang, kadang juga lembek. Aku membayar menu makan siangku sedikit lebih mahal dibanding di Meknes lalu meninggalkan restoran itu.